-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemarau Berdampak Ketersediaan Pakan Hijauan menurun, Dispernakan KBB Dorong Penguatan Cadangan Pakan

Kamis, 24 September 2026 | 20.25 WIB Last Updated 2026-09-24T13:25:05Z


LAWUPOST, KABUPATEN BANDUNG BARAT — Kemarau berkepanjangan yang mulai memberikan dampak sejak Juni–Juli 2026 dan memasuki periode puncak pada Agustus–September mulai menekan ketersediaan hijauan pakan ternak di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kondisi tersebut terutama dirasakan peternak ruminansia yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber utama pakan. Berdasarkan pemantauan Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, ketersediaan sumber air untuk ternak hingga saat ini relatif aman. Namun, keterbatasan hijauan menjadi persoalan yang perlu diantisipasi secara serius.

Hasil pemantauan dan wawancara dengan sejumlah peternak menunjukkan, pada kondisi kemarau berkepanjangan, pemberian hijauan pada sebagian ternak dapat berkurang hingga sekitar 50 persen. Sebagian peternak juga mulai beralih menggunakan jerami padi kering sebagai bahan pakan, meskipun kandungan nutrisinya relatif lebih rendah dibandingkan hijauan segar.

Keterbatasan hijauan semakin terasa karena sebagian kebun rumput belum dikelola secara optimal dan masih terbatasnya peternak yang secara khusus membudidayakan hijauan unggul.

Pada musim penghujan, hijauan relatif mudah diperoleh. Namun, ketika musim kering berlangsung panjang, sebagian peternak bahkan harus mencari pakan hingga ke luar daerah, seperti Subang, Purwakarta, dan Sumedang.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap harga pakan. Harga tebon jagung yang sebelumnya sekitar Rp800 per kilogram meningkat menjadi sekitar Rp900 per kilogram. Sementara harga rumput odot mengalami kenaikan dari sekitar Rp750 menjadi Rp900 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut juga belum sepenuhnya menjamin ketersediaan pakan karena para produsen rumput menghadapi persoalan serupa berupa keterbatasan stok akibat kondisi cuaca.

Populasi Ruminansia Cukup Besar

Tekanan terhadap ketersediaan pakan tersebut berpotensi berdampak terhadap komoditas ruminansia, meliputi sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba.

Berdasarkan data sementara tahun 2026, populasi sapi potong di Kabupaten Bandung Barat mencapai 5.960 ekor, sapi perah 26.717 ekor, kambing 14.744 ekor, dan domba mencapai 184.123 ekor.

Sapi potong tersebar di 16 kecamatan, dengan populasi terbesar antara lain berada di Kecamatan Cisarua sebanyak 2.046 ekor dan Kecamatan Lembang sebanyak 1.464 ekor.

Sementara itu, sapi perah tersebar di empat kecamatan, yakni Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Ngamprah. Populasi sapi perah terbesar berada di Kecamatan Lembang dengan jumlah sekitar 15.724 ekor.

Meski ketersediaan hijauan mengalami tekanan, produksi ternak secara umum masih cenderung stabil. Peternak melakukan berbagai penyesuaian dengan memanfaatkan pakan alternatif serta meningkatkan penggunaan konsentrat berprotein tinggi sebagai pelengkap atau pengganti sebagian hijauan.

Namun, penggunaan pakan alternatif tersebut perlu dikelola secara tepat agar kebutuhan nutrisi ternak tetap terpenuhi sekaligus mencegah peningkatan biaya pakan membebani keberlanjutan usaha peternakan.

Produksi Rumput Menurun, Peternak Mulai Mencari Pakan ke Luar Daerah

Gambaran kondisi di lapangan salah satunya terlihat pada Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, yang mengelola kurang lebih 70 ekor sapi perah.

Kelompok tersebut melaporkan semakin sulit memperoleh hijauan selama musim kemarau. Produktivitas kebun rumput mengalami penurunan drastis dan diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 30 persen dibandingkan produksi pada musim penghujan.

Untuk memenuhi kebutuhan ternaknya, peternak mulai mencari rumput hijau ke daerah lain. Selain itu, mereka memanfaatkan jerami padi kering sebagai salah satu sumber bahan pakan serta menambahkan ampas tahu dan konsentrat sapi perah untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Dispernakan Dorong Peternak Siapkan Cadangan Pakan

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., mengatakan kondisi kemarau perlu direspons melalui pengelolaan pakan yang lebih terencana dan tidak hanya dilakukan ketika kekurangan sudah terjadi.

“Kondisi kemarau yang berlangsung saat ini mulai memberikan dampak terhadap ketersediaan hijauan pakan, khususnya bagi peternak yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber pakan utama. Ketika ketersediaan hijauan menurun, peternak tidak hanya menghadapi persoalan jumlah pakan, tetapi juga kualitasnya. Hijauan yang terlalu tua atau mengalami kekeringan dapat memiliki kandungan nutrisi yang berbeda dibandingkan hijauan dalam kondisi optimal,” ujar Wiwin.

Ia mengimbau peternak mulai menyiapkan cadangan pakan sejak sekarang dan tidak menunggu sampai kondisi benar-benar sulit.

“Kami mengimbau peternak untuk mulai menyiapkan cadangan pakan sejak sekarang dan tidak menunggu sampai kondisi benar-benar sulit diperoleh. Peternak dapat memanfaatkan sumber pakan lokal yang tersedia serta mengolahnya menjadi pakan awetan seperti silase atau hay,” katanya.

Menurut Wiwin, Kabupaten Bandung Barat memiliki potensi bahan pakan yang berasal dari sektor pertanian maupun sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pengolahan dan pengawetan.

Sejumlah bahan pakan alternatif yang selama ini telah dimanfaatkan peternak antara lain jerami padi, tebon jagung, limbah agroindustri, ampas tahu, dan konsentrat.

Dispernakan KBB, lanjutnya, juga akan memperkuat pemantauan kondisi pakan dan air di sentra-sentra peternakan melalui UPTD, BPP, dan penyuluh.

“Dengan pemantauan tersebut, apabila terjadi kekurangan pakan yang signifikan, kondisi dapat diketahui dan ditangani lebih awal,” jelasnya.

Ke depan, Dispernakan akan memperkuat sosialisasi mengenai pentingnya penyimpanan cadangan pakan pada musim penghujan serta pengenalan dan pemanfaatan pakan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan ternak.

Langkah tersebut diarahkan agar peternak tidak hanya merespons kekurangan pakan ketika kemarau terjadi, tetapi telah memiliki cadangan dan rencana pemenuhan pakan sebelum memasuki periode kering.

“Ke depan kita perlu membangun sistem ketahanan pakan ternak, sehingga cadangan pakan sudah tersedia sebelum memasuki periode kemarau. Selain pakan, peternak juga perlu memastikan ketersediaan air minum yang cukup bagi ternak, terutama pada periode dengan suhu lingkungan tinggi dan curah hujan rendah,” tutur Wiwin.

Peternak Diminta Tidak Menunggu Kondisi Kritis

Dispernakan Kabupaten Bandung Barat mengimbau seluruh peternak, khususnya peternak ruminansia, agar tidak menunggu hingga ketersediaan rumput benar-benar kritis.

Peternak didorong mulai menyiapkan cadangan pakan, memanfaatkan sumber pakan lokal yang tersedia, serta mengolahnya menjadi pakan awetan seperti silase atau hay.

Selain itu, peternak perlu memastikan ketersediaan air minum yang cukup serta memantau kondisi tubuh dan produktivitas ternak. Apabila terjadi penurunan kondisi ternak atau kesulitan memperoleh pakan, peternak diimbau segera berkoordinasi dengan penyuluh maupun petugas peternakan di wilayah masing-masing.

Melalui langkah antisipatif tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mendorong terbangunnya ketahanan pakan ternak yang lebih kuat. Dengan demikian, keberlangsungan usaha peternakan dan produktivitas ternak di KBB diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi periode kemarau berkepanjangan. MPM