-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menakar Udara dan Tanah di Kaki Manglayang: Minimnya Tutupan Pohon di Blok Padaemut-Cigupakan Tingkatkan Risiko Klimatologi dan Ekologi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 16.22 WIB Last Updated 2026-08-06T09:22:54Z

 

BANDUNG -LAWUPOST.COM- Kawasan lereng selatan Gunung Manglayang, tepatnya di Blok Padaemut, Cigupakan, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, memiliki fungsi strategis sebagai penyangga lingkungan dan daerah resapan air bagi kawasan Bandung Timur. Namun, minimnya tutupan pohon di wilayah kaki gunung tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko perubahan iklim mikro sekaligus menurunnya daya dukung ekologis.


Dari sisi klimatologi, hilangnya vegetasi berkayu menyebabkan keseimbangan suhu di permukaan tanah mengalami perubahan yang signifikan. Tanpa kanopi pepohonan sebagai pelindung alami, radiasi matahari langsung memanaskan permukaan tanah sehingga suhu udara di sekitar kawasan meningkat. Kondisi ini memicu fluktuasi suhu yang lebih ekstrem, dengan udara yang sangat panas pada siang hari dan lebih dingin pada malam hari.


Selain itu, berkurangnya jumlah pohon juga mengurangi proses transpirasi yang selama ini berperan menjaga kelembapan udara. Dampaknya, udara di kawasan tersebut menjadi lebih kering dan keseimbangan siklus kelembapan lokal ikut terganggu.


Dari aspek ekologi, kondisi tersebut memperbesar potensi kerusakan lahan. Lapisan tanah atas (topsoil) yang kaya unsur hara menjadi lebih mudah terkikis oleh air hujan karena tidak lagi terlindungi oleh tajuk pohon. Akar vegetasi yang berfungsi mengikat struktur tanah pun semakin berkurang, sehingga meningkatkan risiko erosi hingga longsor skala kecil pada lereng.


Sebagai salah satu kawasan resapan air penting bagi Cekungan Bandung, hilangnya tutupan vegetasi juga menyebabkan kemampuan tanah menyerap air hujan menurun. Air yang seharusnya meresap ke dalam tanah justru berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff) yang mengalir deras ke wilayah yang lebih rendah dan berpotensi meningkatkan ancaman banjir saat musim hujan.


Tidak hanya itu, lahan yang terbuka juga memutus koridor habitat berbagai satwa liar serta serangga penyerbuk yang menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem antara kawasan hutan Gunung Manglayang dengan wilayah lereng di bawahnya.


Perubahan Paradigma Menjadi Kunci Pemulihan


Pemulihan kawasan Blok Padaemut dinilai tidak cukup hanya mengandalkan program penanaman pohon yang bersifat seremonial atau proyek reboisasi jangka pendek. Yang lebih mendasar adalah perubahan paradigma dalam pengelolaan lingkungan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.


Komitmen untuk menghentikan pembukaan lahan yang tidak terkendali, penebangan pohon, serta berbagai bentuk eksploitasi kawasan dinilai menjadi langkah utama dalam menjaga keberlanjutan fungsi ekologis Gunung Manglayang.


Secara alami, kawasan tropis seperti lereng Gunung Manglayang memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Apabila gangguan terhadap ekosistem dihentikan, vegetasi lokal akan tumbuh kembali melalui proses suksesi alami sehingga secara bertahap mampu memulihkan keseimbangan lingkungan.


Karena itu, upaya pelestarian perlu diarahkan pada penguatan kesadaran kolektif, perlindungan kawasan, pengawasan yang konsisten, serta pemeliharaan jangka panjang. Dengan demikian, fungsi kawasan sebagai penyangga iklim, daerah resapan air, dan habitat keanekaragaman hayati dapat tetap terjaga untuk generasi mendatang.


Redaksi: Agus Yani

Editor : Deddy