Selamat Datang Di Website Lawupost.com (Menyatukan Inspirasi Dan Motivasi) Keluarga Besar IKDE Terus Pertajam Sosialisasi PIK-R Dikalangan Pelajar | Lawu Post

Keluarga Besar IKDE Terus Pertajam Sosialisasi PIK-R Dikalangan Pelajar

Minggu, 30 Juli 20170 comments

Ciamis (LawuPost.Com) – Ikatan Keluarga Dokter Enjun (IKDE) yang berkedudukan di Jakarta terus gencar sosialisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Program Generasi Berencana (GENRE). Sosialisasi tersebut dimaksudkan sebagai pengetahuan dan bekal siswa tentang kesehatan reproduksi remaja, bahaya penyakit seks menular (HIV/AIDS), narkoba dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga nantinya terbentuk keluarga yang kuat dan harmonis. Demikian disampaikan dr. Enjun disela-sela kegiatan pembekalan tentang kesehatan reproduksi remaja di kampus SMPN 5 Ciamis, beberapa waktu lalu dihadapan para guru dan TU serta ratusan siswa SMPN 5 Ciamis dari mulai kelas VII sampai kelas IX.

Menurutnya, pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK – KRR) adalah suatu wadah kegiatan program KRR yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. “Melalui PIK – KRR diharapkan terwujud remaja Tegar yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar resiko Seksualitas, HIV-AIDS, Narkoba dan menunda usia pernikahan, bercita-cita mewujudkan keluarga kecil sehingga menjadi contoh dan sumber informasi bagi teman sebayanya,” lanjutnya.

Lebih jauh dr. Enjun menegaskan, bahwa GENRE adalah remaja dan pemuda yang memiliki pengetahuan dengan perencanaan matang dalam menapaki masa depan. Remaja GENRE mampu melangsungkan jenjang pendidikan, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, termasuk menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi. Terbentuknya PIK–KRR di SMPN 5 Ciamis ini nantinya adalah sebagai wahana penyebaran informasi tentang generasi berencana dan pusat informasi untuk siswa yang lainnya agar mereka mengerti tentang kesehatan reproduksi, penyakit seksual dan bahaya narkoba.

Menurut dr. Enjun, kesehatan reproduksi remaja yang memang saat ini pengaruh dari informasi global semakin mudah diakses, justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan yang pada akhirnya secara komulatif akan mempercepat usia awal seksual aktif selain sikap orang tua yang masih mentabukan pembicaraan mengenai pendidikan seksual yang masih tidak terbuka dengan anak. “Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta orang  melakukan aborsi, dan hampir 100 juta orang terinfeksi penyakit menular seksual yang masih dapat disembuhkan. Secara global 40 persen dari semua kasus HIV/AIDS terjadi pada kaum muda 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah setiap hari ada 70 ribu remaja yang terinfeksi HIV (UNAIDS, 1998). Jumlah kasus HIV di Indonesia yang dilaporkan hingga Maret 2007 mencapai 14.628 orang. Sedangkan kasus AIDS sudah mencapai 8.914 orang, dimana separuh dari kasus ini adalah kaum muda (umur 15-29 tahun = 57,4 persen) (Depkes,2007),” papar dr. Enjun.

Kepala SMPN 5 Ciamis, Drs. Edi Rusdiana M.Pd selepas kegiatan pembekalan tentang PIK-R kepada tim Lawu News menegaskan tentang latar belakang digelarnya kegiatan sosialisasi PIK-R dan kesehatan reproduksi remaja di SMPN 5 Ciamis. Menurutnya, banyaknya jumlah remaja di Indonesia yaitu sekitar 27,6% dari total penduduk sebanyak 237,6 juta jiwa, dimana jumlah remaja yang banyak ini merupakan potensi bagi pembangunan. Mengingat remaja juga merupakan calon penerus bangsa di masa depan, namun ternyata disisi lain ada gambaran dari remaja Indonesia yang membuat para orang tua, guru, tokoh masyarakat dan pemerintah menjadi prihatin yaitu perilaku remaja terkait dengan seksualitas, penyalahgunaan Napza dan HIV/AIDS. “Berbagai survey maupun penelitian menunjukkan data kasus kenakalan remaja terkait seksualitas, penyalahgunaan Napza dan HIV/AIDS cenderung semakin meningkat,” kata Edi.

Edi menyambut baik kerjasama yang sudah terjalin dengan IKDE Jakarta. “Kegiatan ini sangat positif dan bisa menekan angka pernikahan dini di masyarakat, apabila PIK–KRR yang sudah dibentuk di sekolah ini berfungsi dan memberikan informasi yang detail dan jelas kepada siswa–siswi secara sendirinya bisa mengurangi kenakalan remaja karena narkoba. Kegiatan ini merupakan pengimplementasian proses kerja sama antara SMPN 5 Ciamis dengan Ikatan Keluarga Dokter Enjun Jakarta, kegiatan rutin digelar setahun dua kali dalam bentuk sunatan massal dan pemeriksaan kandungan dan gizi pada saat pelepasan siswa kelas IX. Sedangkan kegiatan pembekalan reproduksi remaja dilaksanakan pada semester genap di pertengahan tahun,” tegas Edi.

Gencarnya sosialisasi yang digelar IKDE yang berkedudukan di Jakarta ke lembaga pendidikan mendapat apresiasi dari Dewan Penasehat IPKB Kabupaten Ciamis, Ir. Tiwa Sukrianto, MS. Menurutnya, sosialisasi PIK-R ke kalangan remaja sangat penting dalam rangka memberikan pemahaman tentang pendewasaan usia perkawinan. “Menikah seperti mudah, padahal nyatanya tidak demikian. Apalagi jika mengingat perjalanan baru nan berbeda yang harus mampu dilalui bersama setelah menikah. Jika mewujudkan keluarga yang ideal sesuai yang dicita-citakan masyarakat kita, harus diawali dari fondasi perencanaan pernikahan yang matang. Tapi mesti diingat juga bahwa perencanaan di dalamnya itu bukan hanya seperti gedung, catering, itu saja ya. Lebih penting, justru hal esensial diantaranya kesiapan psikis, biologis, bahkan ekonomi,” jelas Tiwa.

Menurutnya, banyak yang jauh dari kata ideal keluarganya karena tidak memiliki perencanaan yang matang seperti itu. Misalnya saja, dari segi usia kawin. Masih banyak yang menikah di bawah usia 18 tahun. Padahal dari kebijakan pemerintah melalui UU Perlindungan Anak, tertulis tegas jika mereka yang menikah tidak boleh dibawah usia rentang tersebut. “Tapi ya itu dia, beragam alasan di masyarakat bisa sampai akhinya timbul. Karena pergaulan atau juga ketidaktahuan, ini yang harus terus digenjot oleh stakeholder terkait dalam membangun pengetahuan dan kesadaran masyarakat,” tegasnya. Tiwa mengatakan, jika usia ideal untuk perempuan baiknya ada di angka 20 tahun ke atas. Sedangkan bagi laki-laki minimal usia 22 tahun. “Di rentang usia itu, kematangan psikis dan biologis, di rasa sudah cukup. Tapi akan lebih baik di usia lepas sarjana, sekitar 24 tahun, karena ditambah lagi kematangannya itu adalah di faktor ekonomi, dia sudah punya kemampuan memberikan nafkah secara mandiri. Kematangan ekonomi pun menjadi sangat utama, karena setelah menikah ada kewajiban tambahan untuk menghidupi anak sekaligus istri. Untuk itu, stakeholder terkait (DPPKBPPPA) harus melakukan penggarapan dan pembekalan terhadap calon keluarga.

Intinya, segala hal dalam membina keluarga tidak bisa terjadi tiba-tiba, perlu banyak perencanaan dan pertimbangan agar berkeluarga harmonis bisa didapat. Begitu juga dengan kesiapan reproduksi, selain gencar sosialisasikan anak dalam keluarga harus dua, juga menekankan pentingnya jarak yang berselang empat tahun,” kata Tiwa. Angka tersebut bukan simsalabim juga, tegas Tiwa, tapi pertimbangan dari psikologis sampai faktor ekonomi, dan kesehatan juga. Misal, sederhananya ketika anak masuk SMP atau SMA, kalau bedanya empat tahun tidak akan bersamaan, lalu juga bisa meminimalisir kecemburuan antara si kakak dengan adiknya itu. Angka dua pada jumlah anak menjadi ideal dalam sebuah keluarga karena orangtua pun bisa mendidik secara baik dan maksimal. (mamay)
Share this article :

Posting Komentar

NUSANTARA BERSATU

EDISI TABLOID CERDAS

EDISI TABLOID CERDAS
 
Support : Creating Website | Lawupost | Lawupost Template
Copyright © 2011. Lawu Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Lawupost Template
Proudly powered by Lawupost