Selamat Datang Di Website Lawupost.com (Menyatukan Inspirasi Dan Motivasi) Media Massa di Era Serba Digital | Lawu Post

Media Massa di Era Serba Digital

Kamis, 22 Maret 20180 komentar

Catatan Peringatan Hari Pers Nasional 2018
Media Massa di Era Serba Digital
Oleh : Mamay

Jum’at (9/2), bertepatan dengan Peringatan ke-72 (9 Februari 1946 – 9 Februari 2018) Hari Pers Nasional (HPN). Perjalanan panjang dunia pers telah melewati tahapan zaman dengan dinamikanya masing-masing, hingga sampailah kini pers berada di zaman ketika keberdayaannya disemarakkan dengan lahirnya media dengan sistem elektronik dan digital (media online atau dalam jaringan/daring).

Era digitalisasi kini begitu kuat mewarnai cara penyampaian berita kepada khalayak yang kian berkembang dengan menggunakan perangkat teknologi informatika (TI). Dengan sistem teknologi yang serba daring semakin memanjakan masyarakat karena mereka lebih mudah mendapatkan sajian pemberitaan. Masyarakat tidak lagi harus cape-cape mencari lembaran kertas koran untuk mendapatkan informasi berita, tetapi cukup dengan memijit tombol hape atau keyboard notebook/laptop, sejumlah informasi berita sudah sampai dihadapannya. Pilihan informasi berita yang didapatkan pun bisa lebih beragam sesuai dengan keinginan dan selera.

Dampak dari digitalisasi media tersebut yaitu terpuruknya usaha penerbitan media massa cetak seperti koran, tabloid, majalah dan sebagainya. Tak perlu saya sebutkan sejumlah media massa besar yang ada di Jakarta yang terpaksa menghentikan usahanya karena tak lagi mampu membiayai kebutuhan operasionalnya. Kultur masyarakat urban metropolitan yang sudah lebih dulu melek teknologi lebih awal “membunuh” media massa cetak di sana. Memang tak sampai mematikan sejumlah perusahaan media massa cetak dengan modal kuat, namun pendapatan mereka sudah mulai berkurang sehingga setiap perusahaan penerbitan di sana sudah mulai melakukan efisiensi perusahaan.

Kabarnya, sejumlah media massa cetak di Jawa Barat pun sudah mulai kelimpungan dan beberapa perusahaan media massa cetak sudah tidak mampu lagi membayar karyawannya. Harus diakui, dampak digitalisasi media massa juga sangat berpengaruh terhadap koran-koran lokal termasuk yang ada di Priangan Timur ini. Apalagi, kecilnya belanja iklan dari perusahaan-perusahaan di daerah serta ketatnya persaingan antar media massa semakin membuat koran lokal terpuruk.

Beralihnya masyarakat ke media digital dengan serta merta mengalihkan pula aliran dana iklan dari perusahaan-perusahaan maupun pemerintah. Dana iklan sebagian terserap untuk media digital sehingga pendapatan iklan media massa cetak semakin menurun. Bukan hanya menurunkan omset iklan media massa cetak, pendapatan dari sirkulasi koran pun ikut menurun sebagai akibat berkurangnya pembeli atau pelanggan koran.

Sebagai contoh, dahulu ketika terdapat iklan pengumuman penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) atau mahasiswa baru misalnya, maka hari itu koran akan menjadi rebutan dan buruan para pencari informasi koran tersebut bahkan masyarakat mencarinya sejak subuh atau dinihari. Namun kini, untuk mendapatkan informasi tersebut masyarakat tidak lagi harus memburu koran, tetapi cukup memijit tombol hape pada tautan atau link yang sudah ditentukan, maka saat itu pula sudah bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya.

Memang digitalisasi media massa tidak selamanya menguntungkan masyarakat. Kemudahan membuat media digital atau daring menyebabkan banyaknya informasi berita tidak valid ikut tersajikan kepada masyarakat. Berita-berita hoaks, fitnah, porno, provokatif, agitatif atau bermuatan suku, agama, ras, antargolongan (SARA) lebih mudah ditemukan di media daring. Oleh karena itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap “konten” berita sebenarnya lebih besar terhadap media cetak daripada media daring.

Keyakinan akan kembalinya perhatian masyarakat pada media massa cetak sudah terjadi di sebagian kecil negara maju seperti di Jerman. Setelah mengalami “klimaksnya” atau kejenuhan terhadap informasi digital, masyarakat di sana kembali pada media massa cetak, meski media daring tetap tumbuh secara berdampingan.

Di era digitalisasi pers saat ini perusahaan media massa dituntut untuk menyajikan informasi berita semenarik mungkin, baik dari isi maupun perwajahannya. Yang lebih penting, perusahaan harus bisa menyandingkan informasi berita kepada masyarakat baik secara konvensional (cetak) maupun secara daring. Di beberapa daerah, perusahaan media mengelola keduanya dan menjadikan salah satunya sebagai usaha inti dan yang lainnya usaha sekunder.

Pada akhirnya, pilihan akan ditentukan oleh masyarakat sendiri, apakah lebih cenderung pada media massa cetak ataukah pada media daring. Hanya saja, besar harapan agar hadirnya media daring tidak lantas mematikan media massa cetak. ***
Share this article :

Posting Komentar

NUSANTARA BERSATU

NUSANTARA BERSATU

KODAM III/ Siliwangi

EDISI TABLOID CERDAS

EDISI TABLOID CERDAS
 
Support : Creating Website | Lawupost | Lawupost Template
Copyright © 2011. Lawu Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Lawupost Template
Proudly powered by Lawupost