Selamat Datang Di Website Lawupost.com (Menyatukan Inspirasi Dan Motivasi) Masalah Gigi Bisa Menjadi Pangkal Penyakit | Lawu Post

Masalah Gigi Bisa Menjadi Pangkal Penyakit

Jumat, 10 November 20170 komentar

Ciamis (LawuPost) - Gigi merupakan bagian tubuh manusia yang berfungsi untuk merobek dan mengunyah makanan sebelum diurai kembali oleh organ tubuh dalam lainnya. Maka dari itu, gigi perlu dirawat supaya tidak menjadi pangkal penyakit lainnya.

Menurut data dari organisasi kesehatan dunia WHO, 90% masyarakat dunia pernah mengalami masalah (karies) gigi. Di Indonesia sendiri, sekitar 38,5% masyarakat pernah mengalami sakit gigi. Data tersebut juga relevan dengan fakta bahwa sakit gigi menduduki urutan ke-6 di Jawa Barat sebagai penyakit yang paling banyak diderita masyarakat.

Sakit gigi merupakan satu permasalahan perorangan yang harus ditanggulangi oleh perorangan pula. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, drg. H. Engkan Iskandar, MM, permasalahan gigi mengundang kekhawatiran dari kalangan akademisi, apabila tidak dilakukan penanggulangan penyakit gigi dan mulut maka prevalensi penyakit gigi bisa terus bertambah.

Kata H. Engkan, cara terbaik untuk mengatasi penyakit gigi adalah dengan tindakan preventif atau pencegahan. Terdapat beberapa cara pencegahan penyakit gigi, mulai dari perawatan gigi yang baik hingga pola makan atau jenis makanan yang perlu dikonsumsi dan dihindari.

Perawatan gigi paling mendasar adalah dengan menggosok gigi secara rutin. Minimal dua kali dalam sehari, sebelum tidur dan setelah sarapan pagi. Apabila seseorang telah gosok gigi sebelum tidur, maka jangan makan lagi. “Kebanyakan orang kurang memperhatikan masalah gigi. Beda dengan penyakit-penyakit lainnya yang dijadikan prioritas. Padahal, masalah gigi bisa menjadi pangkal dari penyakit lainnya. Apabila seseorang sudah sakit gigi, maka biasanya mereka tidak bisa makan. Jangankan makan, bicara pun sakit. Nah, dari sana, tentu jika seseorang tidak makan bisa memicu penyakit, disamping rasa sakit gigi yang terasa terus menerus, “ katanya.

Karena tidak menjadi prioritas, tutur H. Engkan, kebanyakan orang datang ke dokter gigi hanya saat sakit gigi. Baik untuk diobati, maupun dicabut gigi. Padahal sebaiknya seseorang mengecek kesehatan gigi minimal setiap 6 bulan. Jika gigi sering dicek, maka bahan permasalahan gigi akan bisa terdeteksi dan dihilangkan. “Padahal, kalau sekedar mengecek kesehatan gigi dan mulut bisa ke Puskesmas. Kalau ada masalah serius pada gigi dan mulut, tentu (pasien) akan digiring ke ahlinya, “ tuturnya.

Jika masyarakat rutin mengecek gigi tandas H. Engkan, maka mereka akan memiliki kalender perawatan, waktu dimana harus dilakukan pengecekan gigi. Jika tidak, masyarakat diingatkan untuk merawat giginya dengan adanya berbagai momentum, salah satunya Hari Kesehatan Gigi Dunia setiap 20 Maret. Di luar itu, berbagai program digalakkan untuk menekan angka prevalensi gigi, seperti Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKMB) yang terbagi menjadi Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM) dan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). “Perawatan gigi cukup gampang namun susah dilakukan. Untuk itu,  perawatan gigi harus dilakukan berdasarkan kesadaran masing-masing individu. Berdasarkan teori, karies atau penyakit gigi secara garis besar terbentuk dari 4 unsur, yakni gigi bakteri, substrat, dan waktu. Plak yang menempel pada gigi akan membawa bakteri, kemudian bakteri itu mengubah substrat berupa karbohidrat atau zat makanan lainnya menjadi asam, akhirnya asam tersebut membuat karies gigi, “ tandasnya. (mamay)
Share this article :

Posting Komentar

NUSANTARA BERSATU

NUSANTARA BERSATU

KODAM III/ Siliwangi

EDISI TABLOID CERDAS

EDISI TABLOID CERDAS
 
Support : Creating Website | Lawupost | Lawupost Template
Copyright © 2011. Lawu Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Lawupost Template
Proudly powered by Lawupost