Selamat Datang Di Website Lawupost.com (Menyatukan Inspirasi Dan Motivasi) Integrasi Pembelajaran Soft Skill dan Hard Skill | Lawu Post

Integrasi Pembelajaran Soft Skill dan Hard Skill

Jumat, 31 Juli 20151komentar

(Hasilkan SDM Cerdas dan Berakhlak)
Oleh : Dr. Nurudin, SPd, MM

Berdasarkan data yang diadopsi dari Havard School of Bisnis, kemampuan dan keterampilan yang diberikan di bangku pembelajaran, 90 persen adalah kemampuan teknis dan sisanya soft skill. Padahal, yang nantinya diperlukan untuk menghadapi dunia kerja yaitu hanya sekitar 15 persen kemampuan hard skill. Dari data tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam memasuki dunia kerja soft skill-lah yang mempunyai peran yang lebih dominan.

Hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal (Dennis E. Coates, 2006).

Menurut Ramdhani (2008) Soft skill sering juga disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara garis besar keterampilan ini dapat dikelompokkan ke dalam: 1). Process Skills, 2). Social Skills, 3). Generic Skills

Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari deskripsi di atas maka dapat ditarik kesimpulan; Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sedangkan soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Semua profesi membutuhkan keahlian (hard skill) tertentu akan tetapi semua profesi memerlukan soft skill

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill (mata pelajaran), bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya. Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Guru seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua guru mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi guru yang punya kewajiban mengasah dan mengembangkan soft skill siswa.

Untuk mendiseminasikan soft skill pada para siswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari guru, dengan  mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para guru supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. Guru harus bisa jadi living example, dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dan sebagainya. Guru juga harus bisa melatih siswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide, hal ini dikarenakan bahwa kemampuan presentasi dan menulis siswa masih banyak yang belum bagus,  fenomena siswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah.

Soft skill yang diberikan kepada para siswa dapat diintegrasikan dengan materi pembelajaran. Menurut Saillah (2007), materi soft skill yang perlu dikembangkan kepada para siswa, tidak lain adalah penanaman sikap jujur, kemampuan berkomunikasi, dan komitmen. Untuk mengembangkan soft skill dengan pembelajaran, perlu dilakukan perencanaan yang melibatkan para guru, siswa, alumni, dan dunia kerja, dalam mengidentifikasi pengembangan soft skill yang relevan.

Tentu saja pengidentifikasian tersebut bukan sesuatu yang “hitam-putih”, tetapi lebih merupakan kesepakatan. Dengan asumsi semua guru memahami betul isi pembelajaran yang dibina dan memahami konsep soft skill beserta komponen-komponennya, maka pengisian akan berlangsung objektif dan cermat. Dengan cara itu setiap guru mengetahui komponen soft skill apa yang harus dikembangkan ketika mengajar.

Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test. Bagaimana untuk menilai soft skill siswa? Evaluasi dengan kertas dan pensil dengan jawaban tunggal (konvergen) tidak cukup. Perlu dilengkapi dengan model soal yang divergen dengan jawaban beragam. Ketika siswa mengidentifikasi informasi, sangat mungkin hasilnya beragam dan semuanya benar. Demikian pula ketika siswa menyampaikan pendapat. Komponen kesadaran diri juga lebih dekat dengan ranah afektif, sehingga evaluasinya tidak dapat hanya dengan tes. Diperlukan format observasi guna mengetahui apakah siswa memang sudah menghayati yang direpresentasikan dalam tindakan keseharian. Tes kinerja dan lembar observasi juga diperlukan untuk mengetahui kinerja siswa dalam mengerjakan tugas/tes maupun perilaku keseharian. Substansi ujian sebaiknya dikaitkan dengan masalah nyata, sehingga dapat menjadi bentuk authentic evaluation paling tidak berupa shadow authentic evaluation yang bersifat pemecahan masalah (problem based).

Cara lain untuk menilai soft skill yang dimiliki oleh siswa dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioral interview. Dengan behavioral interview, diharapkan siswa lulus tidak hanya memiliki hard skill namun juga didukung oleh soft skill yang baik.

Sekolah dasar atau menengah bahkan perguruan tinggi sudah saatnya mengembangkan pembelajaran berbasis soft skill dan hard skill. Hal ini sangat penting sebab banyak orang-orang pintar tetapi sebagian perilakunya ternyata hanya untuk kepentingan pribadi dan membodohi rakyat.

Menurut Prof. Slamet,  PH. MA. MED. MLHR. PhD;  ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan soft skill dan hard skill. Pertama;  soft skill harus diintegrasikan dalam mata pelajaran dan tujuan yang akan dicapai soft skill. Sehingga tenaga pendidik harus menyeleksi dan mengorganisasikan dimensi-dimensi soft skill yang koheran dalam mata pelajaran. Kedua;  penerapan soft skill harus berdasarkan pada pengalaman kerja di sekolah misalnya jika ingin menerapkan kedisiplinan, motivasi kerja, kewirausahaan kepada peserta didik maka tenaga pendidik harus melakukan seleksi pengalaman belajar yang layak dan bermakna untuk disimulasikan. Jadi, tidak semua hal bisa dijadikan simulasi dalam pengembangan  soft skill. Ketiga;  penerapan soft skill dalam mata pelajaran (hard skill) dapat dilakukan dengan pemberian contoh oleh tenaga pendidik sehingga tenaga pendidik mengajar dari segi  abstrak ke kongkret. Hal ini dikarenakan banyak guru yang tidak mengerti mana abstrak dan kongkret.

Suatu keniscayaan, integrasi soft skill dan hard skill akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti dan peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan,Jika soft skill dan hard skill dipadukan dalam pembelajaran maka terciptalah lulusan yang cerdas, pintar dan beretika.(***)
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

28 Desember 2016 00.49

Informasi yang sangat berguna.
Apabila ingin mendapatkan informasi tentang buku-buku bisa kunjungi http://library.gunadarma.ac.id/
Terima kasih.

Posting Komentar

NUSANTARA BERSATU

NUSANTARA BERSATU

PEMKOT CIMAHI

EDISI TABLOID CERDAS

EDISI TABLOID CERDAS
 
Support : Creating Website | Lawupost | Lawupost Template
Copyright © 2011. Lawu Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Lawupost Template
Proudly powered by Lawupost